Kisah Sufi Wanita : Rabi'ah




Rabi'ah binti Isma'il al 'Adawiyah, seorang wanita yang lahir dalam keluarga miskin dan dijual sebagai budak ketika ia masih kanak-kanak. Di kemudian hari ia tinggal di Bashrah, di mana ia meraih kemasyuran sebagai seorang wali dan mendapatkan penghormatan yang tinggi dari banyak orang saleh di zamannya.

Ia wafat pada tahun 135 H/752 M atau 185 H/ 801 M. Rabi'ah yang berselibat (tidak menikah) seumur hidup berperan besar dalam pengenalan kepada mistisme Islam yang bertemakan cinta llahi. Makamnya dikatakan berada di dekat Yerusalem.




Biasa Saja Suatu hari, Rabi'ah melintas di depan rumah Hasan al Bashri. Kepala Hasan menjulur keluar jendela, ia sedang menangis, dan air matanya pun jatuh menetes ke pakaian Rabi'ah. Rabi'ah melihat ke atas, awalnya ia mengira air itu adalah air hujan; kemudian, setelah menyadari bahwa air itu adalah air mata Hasan, Rabi'ah pun menyapanya, "Guru, tangisan ini adalah suatu pertanda kelemahan rohani. Peliharalah air matamu, agar lautan bergelora di dalam dirimu, yang di dalamnya, hati tak akan luput dari pemeliharaan Raja Yang Maha Kuasa."


Kata-kata ini membuat Hasan tertekan, tetapi ia tetap tenang.
Kemudian, suatu hari, Hasan melihat Rabi'ah di dekat danau. Sambil menghamparkan sajadahnya di atas air, Hasan memanggil, "Rabiah, kemarilah! Mari kita salat dua rakaat disini!"
"Hasan," sahut Rabi'ah, "kalau engkau ingin memamerkan kemampuan spiritualmu di pasar ini, pamerkanlah hal-hal yang tidak bisa ditiru manusia lain." Rabi'ah pun melemparkan sajadahnya ke udara dan terbang di atasnya.

"Naiklah kemari, Hasan, agar orang-orang dapat melihat kita!" pekik Rabi'ah.
Hasan, yang belum sampai ke stasiun (maqam) itu, diam saja.
Rabi'ah berusaha menghiburnya. "Hasan," katanya, "apa yang engkau lakukan juga dapat dilakukan ikan, dan apa yang kulakukan juga dapat dilakukan lalat. Keduanya bukanlah hal yang hakiki. Manusia harus mengurusi apa yang hakiki."
---(ooo)---


Bukan Untukku
Dua tokoh agama datang mengunjungi Rabi'ah dan keduanya sedang lapar, "Mungkin Rabi'ah akan memberi kita makanan," kata keduanya satu sama lain. "Makanannya pasti didapat dari sumber yang halal."
Ketika mereka duduk, di hadapan mereka ada sehelai kain dengan dua potong roti di atasnya. Mereka merasa senang melihatnya. Lalu, seorang pengemis datang, dan Rabi'ah memberikan dua Potong roti itu kepadanya. Dua tokoh agama itu merasa sangat kesal, namun mereka diam saja.
Selang beberapa lama, seorang gadis pelayan masuk dengan membawa setumpuk roti yang masih hangat. "Majikanku, mengirimkan ini," ujarnya. Ada delapan belas potong roti.

"Mungkin bukan ini yang majikanmu kirimkan untukku," kata Rabi'ah. Betapapun kerasnya gadis pelayan itu berusaha meyakinkan Rabi'ah, namun Rabiah tetap pada pendiriannya. Maka gadis pelayan itu membawa kembali roti-roti tersebut.

Yang sebenarnya terjadi adalah gadis pelayan itu telah mengambil dua potong roti untuk dirinya sendiri. Akhirnya ia meminta dua potong roti lagi kepada majikannya, lalu kembali ke rumah Rabi'ah. Rab'iah menghitung lagi, dan menemukan bahwa roti yang dikirimkan kepadanya kali ini berjumlah dua puluh potong. Ia pun menerimanya.
"Inilah yang majikanmu kirimkan untukku," katanya. Rabi'ah menghidangkan roti roti itu di hadapan kedua tokoh agama tadi, dan mereka pun sambil terheran-heran.

"Apa rahasia di balik kejadian tadi?" tanya mereka kepada Rabiah. "Kami berselera memakan dua potong rotimu, tapi engkau mengambilnya dari kami dan memberikannya kepada seorahg pengemis. Lalu engkau berkata bahwa delapan belas potong roti yang pertama kali dikirimkan, bukanlah untukmu. Ketika roti yang dikirimkan berjumlah dua puluh potong, engkau baru menerimanya.

"Aku tahu ketika kalian datang ke rumahku, kalian dalam keadaan lapar," jawab Rabi'ah. "Aku berkata dalam hati, bagaimana mungkin aku hanya menawarkan dua potong roti kepada dua orang yang terpandang? Lalu, ketika seorang pengemis datang, aku memberikan dua potoug roti itu kepadanya dan berkata kepada Tuhan, 'Ya Tuhan, Engkau telah berkata bahwa Engkau akan membalas sepuluh kali lipat, dan ini benar-benar kuyakini. Aku telah menyedekahkan dua potong roti demi keridhaan-Mu, maka Engkau pasti akan menggantinya dengan dua puluh potong roti.' Ketika delapan belas potong roti dikirimkan kepadaku, aku mengetahui bahwa sesuatu yang tidak beres telah terjadi, atau roti-roti itu memang sebenarnya bukan untukku."
***








Selamat datang di Blog Dian Anarchyta. Ini hanya contoh dialog box sederhana dengan jQuery. Untuk membuatnya, silahkan pahami sedikit demi sedikit, jangan terburu-buru.